TADABBUR IDUL ADHA

AKAL YANG POSITIF MENUJU AKHLAK YANG POSITIF

            Idul Adha adalah momen penting bagi seluruh Umat Muslim di dunia. Hari di mana Umat Muslim diajak kembali ke peristiwa masa lalu untuk melesat ke masa depan yang lebih baik. Seperti yang telah kita ketahui, Idul Adha adalah momen untuk mengenang peristiwa penyembelihan Qurban pertama kali yang dilakukan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam terhadap putra tercintanya Ismail ‘alaihissalam. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang tidak masuk akal, yang tentunya ada maksud dan hikmah tersembunyi.
Di dalam Al qur’an, selalu diulang – ulang  وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ, yang menekankan bahwa Allah itu Maha mengetahui sehingga di setiap yang dikehendaki Allah itu tentu memiliki arti yang dimana kita sebagai manusia agar selalu berusaha mencari ilmu dengan tidak merasa benar sendiri. Begitu pula pada artikel ini, yang berusaha untuk mentadabburi peristiwa Idul Adha dengan berusaha menggali nilai – nilai positif hikmah dari Idul Adha.
Pada peristiwa besar Idul Adha, saat itu Nabi Ibrahim diperintah Allah melalui mimpinya untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail. Nabi Ibrahim pun menyampaikan pesan tersebut kepada Nabi Ismail, yang ternyata Nabi Ismail langsung bersedia karena itu perintah Allah. Di sini, Nabi Ismail memiliki sifat dan sikap yang begitu agung, yang dimana berkhusnudzon pada Allah. Nilai Khusnudzon yang dipraktekkan ini sangatlah berat dikarenakan adanya beban berat yang dipikul, yang hanya karena ingin mengharapkan ridho Allah.
Hal tersebut bisa kita ambil pelajaran untuk selalu berkhusnudzon kepada beberapa peristiwa atau dalam bentuk apapun di depan kita, yang dengan niatan untuk menggapai ridho Allah. Sehingga peristiwa keagungan sifat Nabi Ismail, bisa kita praktekan di era modern ini untuk memperbaiki logika kita untuk selalu berkhusnudzon melalui logika yang benar. INSYAA ALLAH
            Di era modern ini, banyak logika pada peristiwa yang harus kita benahi untuk menggapai pemikiran yang sehat dan untuk niatan menggapai ridho Allah.  Ada logika dan pertanyaan yang dapat merancu pikiran, seperti pada logika : 
“Dia memang mabuk, tapi siapa tahu dia malamnnya menangis taubat sedangkan Kyai tersebut sering mengisi pengajian tapi siapa tahu mungkin di rumah dia suka marah – marah ke istri” 
 
Logika di atas bisa merancu pemikiran kita. Maka sebaiknya logika tersebut bisa dirubah menjadi :

“Dia memang mabuk, tapi siapa tahu dia malamnya menangis taubat dan Kyai tersebut sering mengisi pengajian sampai malam, tapi siapa tahu dia di rumah rajin Tahajud”

            Dan yang sering kita temui juga mengenai logika tentang perintah memakai kerudung, seperti logika yang sering terjadi, seperti :

“Mending memakai kerudung tapi jahat atau tidak memakai kerudung tapi baik”

           Akan lebih bak jika logika tersebut kita ganti dengan :

“Berkerudung itu baik karena bisa membatasi perilaku bagi pemakai maupun orang lain “

           Seperti kita diperintahkan untuk Khusnudzon kepada orang yang sakit, seperti :

“Orang sakit itu sedang diampuni dosa – dosanya”

         Masih banyak lagi logika – logika di era ini, yang jika kita mau merubahnya dengan khusnudzon tentu akan menghasilkan nilai positif. Marilah kita untuk selalu belajar Khusnudzon pada setiap peristiwa yang tentunya dengan tujuan menggapai ridho Allah.
Wallahua’lam

Comments

Popular posts from this blog

Kematian

Logika Akhir Zaman

Tabir Bukan Penghalang Cinta