Tabir Bukan Penghalang Cinta



         Tabir bukanlah untuk penghalang tapi untuk penghantar cinta. Tabir merupakan sebuah penghalang yang mudah untuk ditembus ketika kita mencintai seseorang yang bukan muhrim kita. Tabir ini mudah ditembus. Banyak salah menafsirkan bahwa tabir hanyalah penghalang cinta tapi sesungguhnya tabir adalah bukti betapa besarnya cinta kita karena di sana kita harus mampu menahan nafsu dan menjaga kesucian seseorang yang belum muhrim, yang kita cintai tersebut.
Hidup di tengah – tengah keluarga yang penuh dengan nilai agama memang sangat diharapkan sebagian besar orang di dunia ini tak terkecuali aku. Kehidupan seperti itu dianggap bisa membawa kita ke dalam ketentraman yang sejati baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, Mungkin menurut pandangan publik, aku merupakan salah satu orang yang beruntung karena aku dilahirkan di tengah – tengah keluarga yang bisa dibilang cukup agamis bahkan juga orang paling kaya di kampung tempat aku tinggal. Bagaimana tidak,.. Ayahku mempunyai pondok pesantren yang cukup besar di Probolinggo yang pada umumnya  pemilik pondok pesantren itu harus orang yang beragama dan jelas beruang. Ayahku pun juga memiliki harapan yang besar padaku untuk bisa menjadi penerusnya. Beliau menamaiku Zachir Ihsan, yang tentu merupakan nama yang cocok untuk disertai gelar Kyai, sehingga menjadi Kyai Zachi Ihsan. Kedua orang tuaku sering mencekoki dengan ilmu – ilmu agama dan terkadang juga memberi tambahan ilmu umum. Aku pun tumbuh menjadi anak yang bisa dibilang mampu menjadi penerus masa depan yang baik.
            Takdir suatu saat mengantarku ke jalur yang lain. Zachir yang sekarang bukanlah Zachir yang dulu lagi. Pergaulan mungkin yang membuat seperti ini. Aku mulai mengenal dan mencintai musik ketika aku menginjak SMA. Musik bahkan telah menjadi hobi pentingku saat itu. Aku belajar memainkan gitar. Aku bahkan berusaha keras agar bisa menguasai gitar dengan baik. Lambat launpun aku mampu menguasainya dan jelas aku berusaha tanpa dukungan orang tuaku karena sebenarnya mereke kurang merestuinya tapi mereka juga tidak melarangku dengan keras.
“kalau maen music se gapapa nak.. tapi paling gak yaa satu minggu sekali latihannya..” nasihat ayahku yang diulang berkali - kali.
“ yah.. yang penting shalatnya gak lupa kan yah..” balasku dengan nada yang menunjukkan rasa bosan karena dinasehati seperti itu terus menerus.
            Suatu saat ada salah satu temanku yang bernama Armand, yang juga alumni pondok ayahku, mengajak aku untuk bergabung dengan grup bandnya di Malang karena ia suka dengan warna permainan gitarku. Di sisi lain Malang juga merupakan kota yang jauh berbeda dengan Probolingga, karena Malang memiliki warna musik yang beraneka ragam, mulai dari dangdut bahkan sampai musik Jazz yang merupakan musik kesukaanku pun ada. Hal itu yang membuatku semakin berhasrat untuk bermusik di Malang.   Sebagai anak yang baik, aku pun meminta izin ayah ibuku.
“yah.. buk.. sekiranya boleh nggak anakmu ini mengadu nasib bermusik di Malang?..” tanyaku dengan penuh hati – hati dan rasa cemas.
“ Apa…..!!!!!???? ke Malang kau bilang..!??” jawab ayah dengan nada keras dan penuh kekagetan.
“iya yah.. tolong izinkan aku yah..” pintaku dengan penuh harap.
“Tidak.. tidak bisa.. mau jadi apa kau nanti..” ayahku pun semakin marah dan ibuku saat itu hanya bisa duduk terdiam.
“ Tapi yah..?” aku masih belum menyerah.
“ Tidak.. pokoknya ayah tidak membolehkan,,,.. istighfar nak!!!!” bentak ayahku.
            Aku pun langsung masuk ke kamarku dengan perasaan sedih dan sebenarnya aku sudah menduga hasilnya akan seperti apa. Ibuku pun masuk ke kamarku dengan tujuan untuk menenangkanku dengan membawa segelas air putih.
“di pikir – pikir dulu ya nak.. Ingat kau hidup di mana dan siapa ayahmu itu.. ayahmu memarahimu karena sebenarnya ia sangat menyayangimu nak..” ibuku mencoba untuk menenangkan dan menyadarkanku. Aku pun hanya terdiam saat itu.
            Dua hari kemudian, ibuku mengijinkanku untuk merantau ke Malang tapi tentu tanpa sepengetahuan ayahku. Ibuku berpesan agar aku tidak melupakan ibadahku di sana dan masalah ayah biar ibu saja yang menyadarkannya. Bahkan saat itu, ibuku memberiku bekal satu Al-qur’an dan uang sebesar 3 juta rupiah. Aku pun pergi merantau ke Malang dengan penuh rasa terima kasih kepada ibuku tercinta.         
            Ketika di Malang aku tinggal di rumah Arman. Di sana aku sedikit terkejut dengan pergaulan di sekitar lingkungan rumah Arman. Bisa dibilang kehidupan di sana jauh lebih bebas dan liar. Yah.. maklum saja kan rumahku asalnya pondok. Di sana, kita bebas melakukan apa saja seperti apa yang dilakukan Arman semisal tidak melakukan shalat, membawa minuman keras, membawa pacarnya masuk ke dalam rumah dan banyak lagi. Meskipun seperti aku masih menjaga ibadahku karena aku takut mengecewakan ibuku.
Aku pun sempat bertanya ke Arman “ kamu kan lulusan pondok, kok gaya hidupmu bebas sekali broo..?”
“yahh.. lulusan pondok gak jamin orang bisa alim bro… lagiyan nikmati aja hidup ini.. heheh” jawab Arman dengan santainya.
            Di Malang,  aku berkarir musik bersama dengan Arman, aku berada di posisi gitaris dan dia sebagai vokalis. Aku mendapat biaya sehari – hari dari hasil bermusikku. Satu tahun pertama berkarir musik di sana masih membuatku bisa menjaga amal ibadahku seperti shalat rutin, mengaji, dan lain – lain. Aku juga kadang pulang satu atau dua bulan sekali untuk menemui ibuku, aku sangat menghindari untuk bertemu ayahku. Tapi lambat laun  pada tahun - tahun berikutnya aku semakin lalai dan tidak punya waktu luang untuk membuka Al-quran pemberian ibuku tadi. Mungkin pergaulan lah yang membuat melalaikan kewajiban – kewajibanku. Waktu bermain musikku juga lah yang terkadang membuatku lalai untuk beribadah. Aku juga semakin jarang pulang. Tapi suatu saat setelah satu tahun, aku merindukan rumah. Aku pulang ke rumah dan aku dipergoki ayahku saat itu.
“Kenapa kau pulang!!!??? Masih ingat rumah kah kau!!!??” sentak ayahku dengan wajah berapi – api. Saat itu juga ibuku menangis melihat keadaan seperti itu.
“aku rindu rumah yah.. aku ingin ketemu ayah dan ibu, Maafkan aku yah buk” jawabku dengan nada merendah. Meskipun aku tergolong anak bandel tapi aku sangat menyayangi ayah dan ibuku.
“Jangan sekali – kali menginjakkan kakimu di rumah ini kalau kau belum bertaubat nak..!!!!!” sentak ayahku lagi.
“ tapi.. yah.. restuilah aku untuk berkarir di Malang..” pintaku dengan penuh harap dan takut.
“ Pergi kau dari sini kau…!!!!” sentak ayahku yang mengusirku dengan tampak tangannya bergemetar.
            Setelah itu aku pun kembali ke Malang lagi dengan rasa beribu salah. Di rumah pun, ayahku menangis setelah itu, “semoga anak kita bisa di beri petunjuk oleh Allah” kata ayahku kepada ibuku yang juga menangis.
            Di Malang aku pun masih melanjutkan karir bermusikku. Dalam hati kecilku aku ingin meninggalkan karir musikku dan kembali ke rumah tapi aku tidak bisa begitu saja meninggalkan musik yang telah mengalir di setiap aliran darahku. Aku mencoba kembali membuka dan membaca Al-quran pemberian ibuku tadi tapi itu hanya sekali setelah aku tidak sempat lagi dan hanya mementingkan bermusik dan berhura – hura bareng teman bermusikku.
            Suatu saat ketika aku menunggu Arman untuk membeli gitar di pasar besar Malang, aku bertemu teman lamaku ketika masih di sekolah MI yang bukan sekolah dari pondokku, ia bernama Nadia. Aku terpukau sekali melihat Nadia yang sekarang. Ia memakai busana muslim yang membuatku diam seribu bahasa.
Aku pun menyapa saat itu, “ hai Nadia!”.
“Wa’alaikumsalam.. ya Allah Zachir?” sapa Nadia kembali.
“ternyata masih ingat aku yaa? Bagaimana kabarmu? Kok kamu di Malang?” tanyaku kembali dengan penuh semangat karena sepertinya dia mengingatku.
“ya tentulah.. aku sudah lama pindah ke Malang sejak lulus MI dulu.. aku yah begini, baik – baik saja.. kamu sendiri?” bala Nadia dengan senyumannya yang menyejukkan hatiku.
“yah aku bisa dibilang baik, bisa dibilang kurang baik.. heheh sedang apa kau di sini kau Nadia?”
“ ini berbelanja jilbab mau ngasih kejutan buat ibuku, kamu juga kok bisa di Malang?” Tanya Nadia kembali.
“iya.. aku kerja di sini.. aku bermain musik”
“oww.. keren dong.. ehh.. aku duluan ya.. keburu soalnya..” Nadia memang tampak sedang terburu – buru.
“ tunggu Nadia.. aku boleh minta nomer hapemu?”
“oh.. iya tentu dong” jawaban Nadia yang membuatku sangat senang.
            Suatu malam aku sms Nadia dengan maksud mengundangnya untuk hadir d Cafe tempat aku tampil. Jawaban Nadia saat itu hanya “Insya Allah”. Itu pun sedikit memunculkan rasa penasaran bagiku. Dan dengan kagetnya, saat itu dia datang ke Cafe dengan saudara perempuannya untuk menontonku tampil bermusik secara langsung. Dia bilang kalau dia suka dengan musik yang kami mainkan. Aku semakin senang dan semangat untuk bermusik. Hubungan kami semakin dekat saja.
Suatu saat,aku menembak Nadia lewat sms, “ Maukah kau menjadi pacarku Nad?”
“hah!?? Apa Zach? Menjadi pacar? Maaf aku tidak bisa.. aku rasa kita cukup berteman saja..” jawab Nadia dengan kebingungan.
“Lhoo.. kenapa? Kita kan sudah sangat dekat sekali bahkan kita sudah saling mengenal sejak kecil” rengekku dengan penuh harap bisa diterima.
“ Maaf yaa Zach.. kamu harus mengerti dan meneriman jawabanku..”
“ beri aku waktu Nad… entah berapapun lamanya atau mungkin ada syarat yang harus aku lakuin?” aku masih terus memohon.
“ Maaf.. aku rasa sekian saja hubungan kita”
            Sejak saat itu Nadi tidak pernah menghubungiku lagi. Akan tetapi dua bulan kemudian, aku mendapat surat yang dikirim teman Nadia ke rumah Arman tempat di mana aku tinggal. Aku membaca surat itu yang berisikan satu kalimat saja“ jika kau masih mencintaiku, datanglah dan lamarlah aku ke rumahku”. Sehari setelah itu aku langsung menuju ke rumahnya untuk memenuhi permintaannya karena aku sangat mencintai Nadia. Aku bertemu ayah dan ibunya langsung. Ayah Nadia mengetes mengajiku saat itu dan aku pun bisa mengaji. Mengajipun ternyata belum cukup, beliau juga menginginkan menantu yang juga hafal Al-qur’an sama seperti Nadia. Aku sempat bingung dengan persyaratan satu ini tapi aku benar – benar mencintai Nadia dan aku bersungguh – sungguh ingin bersanding dengannya. Aku pun pamit dan meminta kesempatan kepada Nadia dan kedua orangtuanya untuk memberi waktu menghafal Al – qur’an.
            Aku pun tidak main – main dengan tekadku tersebut. Aku berhenti bermusik saat itu juga dan aku pergi ke salah satu pondok untuk menghafal Al-qur’an di Singosari, Malang. Di sana tidak perlu membayar biaya hidup karena di sana aku mengabdi sepenuhnya. Setelah satu tahun aku dalam proses menghafal Al-qur’an, aku pergi ke rumah Arman untuk meminjam hapenya karena aku ingin menghubungi Nadia.
“Assalamu’alaikum dik Nadia”
“Wa’alaikumsalam.. ini mas Zachir yaa?” Jawab Nadia dengan penuh semangat seakan – akan sangat merindukanku.
“ Iya ini Zachir.. bagaimana kabarmu? “
“ aku baik – baik saja mas.. kamu sendiri?”
“mas juga baik – baik saja.. kamu sabar dulu yah,, sekarang mas masih hafal 10 juz”
“ iya mas,, aku ingat janji suci kita kok.. aku akan menunggumu sampai kau menghafal 30 juz..”
“apa kamu tidak apa – apa? dengan adanya tabir ini yang menahan cintamu dan membuatmu menungguku” tanyaku dengan penuh bersalah karena membuat Nadia menunggu begitu lama.
“ aku akan menunggumu mas.. karena aku yakin tabir bukanlah penghalang cinta” jawab Nadia dengan sedikit nada merindukanku dan mampu memberi suntikan semangat untukku. 
“ terima kasih dik Nadia, tabir inilah yang merupakan bukti betapa besar dan kuatnya cinta kita berdua” jawabku dengan penuh syukur di dalam hati.
            Dua tahun setengah aku sudah dalam proses menghafal Al-qur’an dan aku sudah menguasai 25 juz. Aku rasa tinggal sedikit lagi aku bisa menjadi Hafidz dan aku bisa kembali pulang ke rumah dan juga melamar Nadia. Namun sebelum itu, aku ingin mengirim surat ke kedua orang tuaku melalui kantor pos yang berisikan permintaan maafku atas perbuatanku selama ini. Yang berisikian :
" Assalamu'alaikum ayah dan ibuku tercinta. ini aku Zachir sang anak yang sering membuat ayah ibu menangis, bersedih dan bahkan mungkin menyesal pernah melahirkan aku. Aku ingin sekali minta maaf kepada ayah ibu. Sungguh aku berharap semua orang tua pasti memaafkan anaknya yang pernah salah apalagi seorang orang tua sebaik ayah ibuku. Suatu saat jika ayah dan ibu sudah berkenan menerimaku kembali, ingin sekali ku pulang ke rumah bertatap muka dan bercanda tawa dengan ayah dan ibu meski hanya sehari saja. Mungkin ayah dan ibu sudah sangat kecewa denganku dan bahkan tidak akan sudi menerima lagi. Tapi sekali lagi aku ingin sedalam - dalamnya dan setulusnya - tulusnya ingin minta maaf kepada ayah dan ibu. Terima kasih. Wassalamu'alaikum". kedua orang tua Zachir pun menangis dan hendak berkeinginan membalas surat yang berisikan telah memaafkan Zachir yang akan dikirim esok hari.
              Setelah pulang dari kantor pos, sebuah Truck menabrak Zachir dan nyawa Zachir tak terselamatkan. Berita ini pun sampai ke rumah sehari setelah suratku tadi tiba di rumah sebelah kedua orang tua Zachir membalasa suratnya. Ayah dan ibuku terlarut dalam kesedihan yang begitu dalam dan lebih dalam lagi setelah mendapat kabar dari Ustadz Zachir dari pondoknya bahwa Zachir telah menghafal Al quran 25 juz. Kedua orang tua Zachir menangis dan menyesal pernah mengusirku tapi di sisi lain ayahku bangga padaku karena aku sudah menghafal 25 juz. Nadia pun juga terlarut dalam kesedihan yang begitu dalam tapi dia tetap bisa berdiri tegar karena Zachir telah memberi pelajaran kepadanya bahwa TABIR BUKANLAH PENGHALANG CINTA. Sebuah tabir dalam cinta sebelum jadi menikah adalah bukti bahwa cinta kita semakin besar dan kuat. Semakin lemah tabir itu semakin lemah cinta kita. Perkuat tabir itu sehingga kita mampu menghindari nafsu syaitan dan mendapat cinta sejati yang penuh kasi sayang. 

Comments

Popular posts from this blog

Kematian

Logika Akhir Zaman