Logika Akhir Zaman
Islam
Garis Lurus?
Yah..
di era sekarang ini, akhir zaman, kita mungkin tidak asing lagi beberapa
istilah yang digunakan untuk melabeli golongannya sebagai “garis lurus”. Yah, sebenarnya istilah tersebut cukup membuat penulis
sedikit gelisah. Kelihatannya sih sepele ya? Akan tetapi hal ini bisa jadi sangat vital dikarenakan menyangkut
masalah akidah seorang Muslim.
Kenapa hal tersebut membuat penulis
gelisah? Gini deh, penggunaan istilah “garis lurus” mungkin bisa dikatakan logika
akidah di akhir zaman. Hal ini sangat mampu mempengaruhi akidah seorang Muslim,
sehingga dapat mengubah sikap seorang Muslim dalam berhubungan secara vertical dan
horizontal. Pelabelan “garis lurus” ini
adalah pengungkapan yang sangat berani tentunya. Hal ini seakan – akan memastikan
bahwa golongan mereka lah yang lurus, dan yang lain bengkok, sehingga ideologi
ini dapat memicu gejolak dalam hati yang mendorong sikap untuk memusuhi
beberapa faham yang lain, yang mungkin dianggapnya “tidak lurus”.
Menurut penulis pribadi, menggunakan
istilah “garis lurus” itu adalah
ungkapan yang sombong ya… seakan – akan golongannya adalah yang tepat lurus berada
di jalan yang benar. Padahal, kita setiap sholat diharuskan membaca Al-Fatihah,
yang didalamnya kita berdoa pada ayat :
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ
Artinya :
“Tunjukilah
kami jalan yang lurus”
Pada ayat di atas, kita berdoa dalam
setiap sholat dan membaca Al-Fatihah. Dalam ayat e tersebut kita meminta kepada
Allah untuk selalu dibimbing menuju jalan lurus. Hal ini seakan – akan membuat
kita sadar bahwa hakikatnya manusia itu berada dalam kesesatan dan selalu perlu
bimbingan Allah untuk kembali ke jalan yang lurus. Hal tersebut bisa menanamkan
sifat yang positif pada diri kita, karena kita akan selalu berpikir bahwa kita
adalah Muslim yang belum lurus. Dampaknya adalah kita akan selalu merasa kurang
dan terus meningkatkan ibadah kita.
Ada istilah lain yang menurut
penulis lebih cocok digunakan selain “garis lurus”. Para Ulama selalu menggunakan
ungkapan “Tersambung”. Seperti pada periwayatan
sebuah hadits yang menggunakan istilah “sanadnya tersambung dan tidak terputus
hingga Rasulullah”. Ulama Nusantara pun menegaskan bahwa ajaran Islam di
Indonesia ini tersambung hingga Rasulullah. Ungkapan kata “tersambung” tentu ungkapan yang digunakan untuk menunjukkan rasa “hati
– hati” untuk mengurangi kesombongan pada individu dan kelompok tertentu.
Wallahua’lam…
Comments
Post a Comment