SEBERAPA PENTING BELAJAR BAHASA sih? (TADABBUR AL QUR’AN)


           
Pada dasarnya mempelajari semua ilmu itu penting, dan masing – masing ilmu tentunya memiliki peranannya masing – masing. Akan tetapi, banyak muncul  pertanyaan “seberapa pentingnya sih belajar bahasa?”. Banyak yang berpendapat bahwa tanpa belajar atau kuliah bahasa, kita bisa menggunakan bahasa dengan baik dan benar melalui pengalaman berkomunikasi sehari - hari. Nah, artikel kali ini ingin mencoba mengkaji “seberapa pentingnya belajar bahasa” melalui sudut pandang Al qu’ran.
1.        Al qur’an dan Bahasa.
Setiap Mukjizat yang diberikan Allah kepada RasulNYA selalu disesuaikan dengan zamannya. Nabi Musa diberikan Mukjizat berupa tongkat yang memiliki beberapa keitsimewaan, yang dimana saat itu zaman keemasannya dunia sihir. Nabi Isa diberikan mukjizat untuk bisa menyembuhkan buta sejak lahir, menyembuhkan penyakit belang dan menghidupkan orang mati dengan ijin Allah, yang dimana saat itu dunia medis berada di puncaknya. Dan, Al qur’an diturunkan oleh Allah sebagai Mukjizat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa salam, yang dimana pada masa itu dikenal sebagai zamannya sastra. Dan sampai masa kini, Al-qur’an pun memiliki peran yang nyata pada dunia sains. Al-qur’an pasti akan terus memiliki peran pada zaman – zaman berikutnya. Dan, akal manusia belum mampu menembus peran Al-quran di masa – masa berikutnya. Wallahua’lam
Seperti yang telah kita ketahui, bahwa Al qur’an itu adalah sebuah teks klasik yang kaidah – kaidahnya tak lekang oleh waktu. Al qur’an adalah sebuah mukjizat yang paling istimewa. Kenapa begitu? Karena tidak seperti mukjizat nabi sebelumnya, yang masanya terbatas oleh waktu sedangkan Al qur’an tak kan lekang oleh waktu, dimana kaidah – kaidahnyanya mampu digunakan sebagai penerang pada setiap zaman dan bahkan sampai pada setelah kehidupan di dunia.
2.        Bahasa sebagai penakluk Malaikat ALLAH
Bahasa merupakan penakluk Malaikat Allah. “penakluk” mungkinlah sebagai sebuah diksi yang cocok untuk menggambarkan kisah Nabi Adam, yang membuat para Malaikat mengakui pada kesan pertamanya bahwa ciptaan Allah berupa manusia adalah ciptaan yang hebat. Seperti yang tertulis pada QS Al Baqarah : 31
وَ عَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُوْنِيْ بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ
 (31) Dan telah diajarkanNya kepada Adam nama-nama semuanya, kemudian Dia kemukakan semua kepada Malaikat, lalu Dia berfirman : Beritakanlah kepadaKu nama-nama itu semua, jika adalah kamu makhluk-makhluk yang benar.


            Sebelumnya, Malaikat mempertanyakan kehendak Allah yang aka menciptakan manusia sebagai Khalifah di bumi pada ayat QS Albaqarah 30. Kemudian pada ayat 31, yang penafsirannya dalam sebuah kitab klasik, Ibnu Katsir, menyatakan bahwa Nabi Adam, seorang manusia yang memiliki kelebihan daripada para Malaikat. Dalam ayat tersebut, Nabi Adam mampu menyebutkan nama – nama benda, yang diajarkan langsung oleh Allah. Setelah ayat tersebut, Malaikat pun mengakui Nabi Adam yang tentu atas perintah Allah, seperti pada QS Al baqarah : 32


قَالُوْا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
 (32) Mereka menjawab: Maha Suci Engkau ! Tidak ada penge­tahuanbagi kami. kecuali yang Engkau ajarkan kepada Kami. Karena sesungguhnya Engkau­lah Yang Maha Tahu, lagi Maha Bijaksana.


            Dan, setelah itu Malaikatpun bersedia bersujud kepada Adam atas perintah Allah, kecuali para Iblis yang takabur, yang tertulis pada QS Al-Baqarah : 34


وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ



(34) Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.



3.        Bahasa adalah cerminan Masyarakat
            Nah, poin ketiga ini adalah bahasan yang merupakan jawaban tentang pentingnya belajar bahasa. Seperti yang kita ketahui, bahasa adalah sebuah alat komunikasi yang menjadi pengubung antar penutur. Bahasa merupakan cerminan masyarakat, karena dengan bahasa, kita akan mampu memahami budaya pengguna bahasa tersebut. Maka semakin kita mendalami ilmu bahasa, maka kita akan mampu berkomunikasi dengan lebih baik. Hal ini tersampaikan pada QS Ibrahim : 4


وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ


Artinya :
“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.”

            Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah mengutus Rasulnya sesuai dengan bahasa kaumnya, agar yang disampaikan mudah dimengerti. Seperti pada saat itu, Nabi Musa dan Nabi Isa berbahasa Ibrani, yang diutus kepada masyarakat yang pada saat itu bahasa Ibrani masih digunakan. Sedangkan Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wa salam berbahasa Arab, yang diutus pada masyarakat yang berbahasa Arab. Bahkan, sampai sekarang bahasa Arab pun masih digunakan sampai saat ini.
Jika kita mendalami lebih dalam ayat di atas, maka bisa pada pentingnya belajar sebuah bahasa. Pemahaman ayat di atas memiliki makna pada dua aspek, yaitu :
1.      Semakin kita mendalami bahasa, maka kita akan mampu berkomunikasi dengan lebih baik di dalam kehidupan bermasyarakat.   
2.      Allah mengutus Rasulnya pada kaum yang sesuai dengan bahasa lisannya, yang berarti antara Penyampai dan yang Penerima itu harus mampu saling memahami. Secara tidak langsung, kita khususnya penganut kita Al-qur’an ya harus belajar bahasa Arab. Yang penting ikhtiar dulu yaa.. masalah bisa atau tidaknya itu urusan lain, hehe
Berdasarkan penjelasan di atas, di dalam Al-qur’an pun juga terdapat pentingnya sebuah bahasa. Mungkin dalam artikel ini hanyalah ayat tersebut yang mampu dijabarkan. Maka dari itu, bagi pemerhati atau penggiat di bidang bahasa, teruslah semangat untuk belajar bahasa yaa.. Semoga kita semua bisa menjadi insan yang berguna bagi sekitar kita, aamiiiin
Wallhua’lam bi Showab




Comments

Popular posts from this blog

Kematian

Logika Akhir Zaman

Tabir Bukan Penghalang Cinta