TADABBUR “SURGA DI TELAPAK KAKI IBU”



(Untuk Anak vs Untuk Ibu)
 
            Sebuah slogan yang berbunyi “Surga di Telapak Kaki Ibu” adalah sebuah slogan yang tidak asing bagi khalayak orang. Slogan tersebut diambil dari sebuah hadits, yang entah hadis palsu atau shahih. Tentunya, artikel bukan untuk membahas tentang keshahihannya tapi untuk mendalami makna “Surga di Telapak Kaki Ibu” dari sudut pandang yang lebih luas alias mentadabburi.
            Khalayak orang pasti memahami bahwa “Surga di Telapak Kaki Ibu” bermakna bahwa seorang anak harus berbakti kepada seorang ibu. Yap betul sekali, makna tersebut 100% betul. Pemahaman tersebut bisa memberikan efek yang begitu positif pada seorang anak, yang berbakti kepada ibunya. Seperti bagaimana kewajiban seorang anak, adalah untuk berbakti kepada ibunya.  Tetapi bagaimana efeknya bagi ibu ke anaknya?
            Berdasar pemahaman di atas, tentunya memberikan efek positif yang begitu besar bagi sang anak. Tapi ketika suat saat saya menghadiri sebuah pengajian, sang Kyai(sengaja tidak saya sebutkan namanya) memberi pemahaman bahwa makna “Surga di Telapak Kaki Ibu” bisa bermaknakan sebuah tugas yang diembakan pada sang ibu. Menurut beliau, seorang ibu memiliki tugas sebagai penuntun anaknya untuk menuju surga. Yap pemahaman ini begitu menggugah akal dan pikiran saya bahwa, seorang ibu sangat memiliki tugas yang begitu vital untuk menuntun anaknya ke jalan surga. Seperti banyak kisah para tokoh Islam yang dibesarkan oleh ibunya seorang, yaitu Imam Safi’i, Imam Bukhori dan lainnya. Di sini, kita bisa melihat bahwa seorang memiliki pengaruh yang besar, bagaimana ia mendidik anaknya menuju jalan surga. Yang tentunya, seorang ibu sangat perlu memiliki akhlak dan ketaatan dalam beribadah untuk bisa menuntun anaknya ke surga.
            Dari dua sudut pandang di atas, makna “Surga di Telapak Kaki Ibu” bisa memiliki makna yang begitu positif bagi anak dan ibunya, di mana seorang anak harus berbakti kepada ibunya, yang mampu menuntun anaknya untuk menggapai surgaNYA. Dan, jikalau dipahami dan dipraktekan kedua sudut pandang tersebut, maka Insya Allah jalan menuju surga bisa diraih. Amiin
Wallahua’lam

kenapa disini

Comments

Popular posts from this blog

Kematian

Logika Akhir Zaman

Tabir Bukan Penghalang Cinta