Fanatisme ≠ Radikalisme

           Dewasa kini, agama Islam telah dibenturkan dengan faham fanatisme dan radikalisme.  Banyak opini bermunculan, dimana pemeluk Islam yang fanatik cenderung memiliki sifat radikal. Hal tersebut tentunya menghasilkan asumsi dunia bahwa semakin tinggi keislaman seseorang maka semakin memiliki sifat radikalisme. Dan, lebih parahnya lagi, Negara – negara yang jauh dari Islam menganggap bahwa Islam adalah identik dengan radikalisme. Tentunya opini tersebut telah berhasil dibentuk dengan rapi oleh musuh – musuh Islam sehingga berhasil membangun pandangan orang terhadap siapa itu Islam.
Apakah opini tersebut benar?
            Sebagai seorang Muslim, tentunya saya begitu menolak opini tersebut. Sesuai dengan motto Islam yang penuh kedamaian, maka radikalisme tidak bisa dikaitkan dengan fanatisme orang terhadap Islam. Islam adalah agama Rahmatallil’alamin yang memiliki faham untuk memberikan kasih sayang yang bukan hanya kepada manusia saja, akan tetapi kepada semua makhluk Tuhan.
            Makna fanatisme sendiri adalah keyakinan terhadap suatu hal yang dianut secara mendalam. Ini berarti bahwa semakin seseorang mendalami Islam maka semakin tinggi pula  kasih sayang yang dimilikinya. Tentunya ini berbanding terbalik dengan doktrin bahwa Islam adalah agama radikalisme. Sebagai contohnya banyak kisah nabi Muhammad shallallahh alaihi wa salam yang menunjukkan rasa kasih sayang terhadap sesamanya. Seperti salah satu kisah beliau yang memberi sebuah roti kepada pengemis buta yahudi tanpa sepengetahuannya bahwa yang memberi adalah orang yang sangat dibencinya. Setelah beliau wafat, Abu Bakar menggantikan peran beliau untuk memberi makan pengemis tersebut akan tetapi pengemis itu langsung menyadari bahwa yang memberi makan berbeda dengan yang biasanya karena Abu Bakar tidak mengunyah rotinya terlebih dahulu. Mashaa Allah, akhlak yang mulia sekali dicontohkan Rasul kita.  
            Seandainya seluruh non Muslim (khususnya bagi warga Negara yang menganggap Islam teroris)  membaca dan mempelajari kisah – kisah santun Rasulullah shallallahu alaihi wa salam, maka mungkin banyak dari mereka menolak menyebut Islam sebagai agama yang radikal. Jikalau ada beberapa pihak yang berbuat radikal dan mengatasnamakan Islam, maka itu adalah kehendaknya sendiri yang bukanlah ajaran wajib dari Islam.

Comments

Popular posts from this blog

Kematian

Logika Akhir Zaman

Tabir Bukan Penghalang Cinta