Di Mata Tuhan, Sudahkah Kita Dewasa



Di Mata Tuhan, Sudahkah Kita Dewasa?
           
            Tolak ukur kedewasaan seorang manusia di mata Tuhan adalah kesadaran beragamanya. Semakin tinggi kesadaran beragamanya maka semakin tinggi pula tingkat kedewasaan manusia tersebut. Semua orang pasti menginginkan tuk menjadi manusia dewasa. Sebagian manusia dewasa pasti bisa membedakan mana yang hak dan yang bathil.
            Tentunya kita semua manusia, yang khususnya berusia 17 tahun keatas pasti mengkategorikan diri ini sebagai manusia dewasa. Benarkah seperti itu?
            Seperti kategori di atas, dewasa berarti memiliki kesadaran dalam beragama. Singkat kata, manusia dewasa lebih mengutamakan urusan agama daripada yang lain dan selalu mempertimbangkan segala urusan melalui kaca mata agama. Sudahkah kita seperti itu?
            Menurut penulis, sebagian manusia kurang memenuhi syarat menjadi dewasa sesuai kategori di atas. Penulis bahkan bisa mengkategorikan sebagian besar kita masih tergolong anak kecil. Yah, seperti anak kecil yang masih tak menghargai waktu sebagai bekal masa depan.
            Kita lihat anak kecil, yang sedang menikmati asyiknya bermain yang terkadang membuat mereka lupa atau bahkan menghiraukan panggilan orang tuanya. Dalam keadaan senang, tertawa dan bahagia mereka bisa menghiraukan bahkan tak mungkin merasa tak butuh dengan orang tua mereka. Sedangkan, ketika mereka terjatuh, kata apa yang pertama disebut dengan kera? Pastinya mereka menyebut - nyebut dan memanggil “IBU!! IBUUUUU!!”. Benar begitu bukan? Apakah ada persamaan dari anak kecil itu dengan kita?
            Kita mungkin masih sering menunda panggilan Tuhan karena disibukkan dengan urusan dunia. Pada saat itu, mungkin kita merasa tak butuh atau bahkan dengan Tuhan yang menciptakan dan memberikan kita kekuatan. Sedangkan, di saat kita susah bahkan terpuruk, kita malah memanggil – manggil Tuhan. Apakah tidak ada rasa malu? Ketika kita bahagia, Tuhan dilupakan tetapi saat susah, kita memanggil – manggil nama Tuhan seakan kita ini dekat sekali denganNYA.
            Jika dilihat dari sudut logika dan matematika, memang meninggalkan pekerjaan karena panggilan Tuhan itu rugi. Ketika kita berdagang, kemudian kita tutup dagangan karena panggilan Tuhan memang secara logika dan Matematika memang rugi. Ketika kita mengerjakan perintah dari atasan, kemudian kita menundanya sebentar karena panggilan Tuhan memang secara logika dan Matematika memang rugi. Tapi, banyak kesaksian yang mengatakan bahwa memenuhi panggilan Tuhan itu mampu mengalahkan logika. Bagi penulis itu pun wajar, karena Tuhan itu di atas segalanya bahkan Matematika dan logika itu jauh dibawah Tuhan.
            Mari kita bermuhasabah diri, kita renungi apakah kita sudah dewasa atau belum? Akan lebih baik jika setelah membaca artikel ini bisa membuat kita belajar untuk menjadi dewasa.    
           

Comments

Popular posts from this blog

Kematian

Logika Akhir Zaman

Tabir Bukan Penghalang Cinta