Mbak Tin



                        Sesosok wanita tua adalah selalu dikaitkan dengan seorang wanita yang kuat dan tangguh. Usia yang tua adalah gambaran seseorang telah melalui hiruk pikuk, suka dan duka hidup. Ribuan duri dan sambaran petirpun belum tentu bisa menyakiti hati seorang wanita tua. Kadang mereka bisa memilih bahagia, tapi mereka lebih memilih sakit demi kebahagiaan yang muda.
            Ini adalah kisah seorang wanita tua yang akrab dipanggil “Mbak Tin”. Beliau adalah seorang pembantu yang paling setia di rumahku surgaku. Wajah yang semakin bergelombang dan lekukan tubuhnya yang terlihat begitu nyata menandakan usianya yang semakin tua. Sungguh sebenarnya beliau sudah tak layak disebut pembantu, tapi beliau pun tidak  mau memilihnya. Kesenangan beliau adalah membantu dan melayani majikannya.
            Beliau adalah sungguh wanita pejuang yang tangguh yang pernah aku kenal. Kisah sedih yang menyelimuti dirinya membuat dirinya mengerti bahwa kebahagiaan adalah bukan melihat dirinya bahagia tapi dengan melihat orang lain bahagia. Sungguh kisah paling sedih beliau adalah ketika satu minggu setelah beliau meninggal, rumahnya kebakaran. Suami yang tercinta pun terkejut dan akhirnya meninggal dunia, Innalillahi wa innailaihi roji’uun. Cerita ini pun beliau ceritakan dengan raut wajah tersenyum tanpa sedikitpun bersedih. Sejak kematian sang suami, kisah beliau sebagai pembantu dimulai.
            Aku selalu bersedih melihat beliau yang mengingatkanku waktu kecil. Sungguh saat itu aku masih kecil dan tak tahu menahu tentang kehidupan ini dan kehidupan beliau. Saat aku kecial, aku sering membentak – bentak beliau dan beliau hanya tersenyum lebar dengan penuh sabarnya. Bahkan, saudara kandungnya pun seolah mengsaudara tirikannya. Sungguh malang sekali nasib Mbak Tin. Di saat orang lain yang tak berdarah sama ingin meratukan beliau, beliau pun menolak dan selalu memilih untuk menjadi layaknya pembantu.
            Selain jadi pembantu, beliau juga membanting tulang untuk bertani dengan menggarap sawah orang lain. Dengan pekerjaan beliau yang berpenghasilan pas – pasan, akhirnya beliau mampu berangkat Umroh. Alhamdulillah, sungguh Allah maha pengabul doa dan usaha dari yang tidak mungkin menjadi mungkin. Sejak dulu memang tujuan beliau bekerja tanpa kenal lelah itu untuk bertatap muka dengan rumah Allah SWT. Setelah penasaran, aku penasaran dengan apa tujuan hidup beliau setelah Umroh yang diimpikannya telah tercapai. Jawaban beliau pun sungguh mengejutkanku. “ aku pengen beli Sapi terus nanti aku pelihara dan nanti bisa dijual saat aku sudah meninggal untuk biaya pemakaman dan lain – lain, dan sisanya bisa disumbang kepada yang lebih membutuhkann”.
            Sungguh niat beliau bekerja tak sedikitpun luput dari kata mulia. Pernahkan kita berfikir bahwa kebahagiaan itu bukanlah untuk diri sendiri tapi untuk orang lain. Dan bahkan pernahkah kita berfikir, ketika kita meninggal nanti kita tidak akan merepotkan orang lain. Sungguh beliau mengajarkan kita bahwa doa dan usaha adalah hal yang paling indah dalam hidup ini.     

Comments

Popular posts from this blog

Kematian

Logika Akhir Zaman

Tabir Bukan Penghalang Cinta