INDAHNYA CINTA SUAMI - SUJUD ADALAH TEMPAT SUCI UNTUK MERINDU





            Ketika mata memandangi semua benda peninggalan Hanimah sang almarhumah istri tercinta, hanya terlukis sebuah kebahagiaan. Mulut serasa terkunci, tak tahu lagi apa yang di mau hati saat itu. Berisikan Badai ingatan tentang semua kejadian – kejadian indah tentang masa lalu yang pernah dilalui bersama keluarga kecil nan  bahagia. Meskipun sang almarhumah istri belum sempat memberikan seorang keturunan yang diidam – idamkan tapi Rafiq sang suami sangat mencintai sang almarhumah istri tercinta dikarenakan akhlak mulianya yang mungkin tak ada syair bagi yang mampu melukiskannya.
            Banyak kenangan akhlak yang tak terlupakan. Tapi ada satu yang sangat – sangat membekas.Teringat sore itu saat hujan yang lumayan lebat. Rafiq sedang membantu temannya yang motornya mogok ketika akan pulang dari kantor akan tetapi hape Rafiq sedang mati karena baterainya habis dan temannya tidak punya hape pula. Pada saat yang bersamaan Hanimah ingin berbelanja untuk makan malam mereka. Seharusnya jam telah menunjukkan jam pulang kantor Rafiq tapi Rafiq belum pulang juga. Hanimah pun menghubungi hape Rafiq berulang kali tapi tidak bisa karena tidak aktif. Hanimah menunggu selama satu jam tapi kok belum pulang juga tapi Hanimah berfikir postitif “mungkin Ayah lagi ada acara mendadak dan hapenya mati”. Waktu menunjukkan semakin sore. Hanimah khawatir jika semakin malam nanti terus masak apa buat nanti malam, Hanimah khawatir kalo sang suami kelaparan saat pulang nanti. Akhirnya Hanimah memutuskan untuk pergi berbelanja sendiri jalan kaki  ke rumah tetangga yang jaraknya lumayan jauh sekitar 4 km di tengah hujan yang lumayan lebat. Setelah berbelanja, Hanimah kelelahan sekali dan merasa sedikit pusing. “aku sedikit pusing, tapi aku gak boleh kelihatan pusing saat suamiku pulang dari mencari nafkah nanti dia malah cemas, aku gak mau bikin dia cemas saat dia kelelahan sehabis pulah dari kerja” batin Hanimah. Dia pun segera pergi mandi dan bersolek agar kelihatan tidak sakit. Akhirnya setelah Isya’, Rafiq sang suami telang pulang dan hidangan makan malam pun telah siap di meja makan. “maaf sayangku.. tadi ayah membantu teman yang motornya rusak terus hape ayah juga mati jadi gak bisa hubungin rumah” maaf Rafiq sang suami kepada sang istri dengan wajah lusuh dan kecapekan. “iya aku ngerti kok sayang, itu udah aku masakin masakan kesukaanmu” jawab Hanimah sang istri dengan penuh senyuman. “ayah tadi udah makan di jalan jadi ayah makan sedikit ya” sahut Rafiq dengan senyuman pula. “ iya gapapa kok, ayah pasti kecapekan ya jadi makan di luar” jawab Hanimah dengan penuh senyuman manis. Rafiq pun memakan hidangan makan malam itu berdua dengan sang istri dan si Rafiq hanya makan sedikit sekali cuman dua 3 sendok makan. Tak lama setelah makan malam, mereka berdua tidur. Kemudian waktu tengah malam si Rafiq terbangun dan mengecas hape, terkaget melihat ada laporan miss call sebanyak 23 kali dari sang istri yang sudah tertidur pulas. Rafiq penasaran sekali tapi dia tidak mau membangunkan istrinya yang sedang tidur pulas karena sang istri kelihatan lebih capek di banding dia. “tak tanyakan nanti saja ah, sekarang aku mau shalat tahajjud dulu” gumam si Rafiq dengan penuh penasaran. Di tengah shalat tahajjud, sang istri memanggil “Rafiq.. Rafiq.. suamiku..”. si Rafiq kaget dan langsung menuju ke kamar. Sang istri terlihat sekarat saat itu. Rafiq pun kaget melihat kondisinya malam itu yang buruk sekali. “aku bawa ke rumah sakit ya.??” Kata si Rafiq dengan penuh kecemasan. “ gak usah sayang.. waktuku udah gak lama lagi” jawab si Hanimah dengan wajah yang setengah sekarat. “maafkan aku ya sayang.. aku belum bisa memberi kamu anak yang kamu idam – idamkan, kamu boleh kok mencari istri lagi kalau aku sudah meninggal” kata Hanimah sang istri dalam kondisi sekarat. “kamu ini ngomong apa sih, ayo aku bawa ke rumah sakit” jawab si Rafiq dengan segera bergegas menggendong Hanimah. “ Asyhadu Anlaa ilaaha illallah wa Asyhadu anna muhammadar rasulullah” kata terkahir diucapkan sang istri. Si Rafiq pun menangis kencang – kencang sambil mengatakan “ aku sayang kamu Hanimahku sayang!!”. Isak tangis dan rasa kehilanagan mewarnai pemakaman Hanimah pada pagi itu. Hal itu wajar sekali, karena Hanimah dikenal sebagai sosok wanita muslimah yang sangat istimewa bagi semua orang yang kenal dia.
Setelah beberapa hari kemudian, si Rafiq masih dalam kondisi berkabung. Saat hendak sarapan, si Rafiq ingin berbelanja sendiri di rumah tetangga tempat si Hanimah belanja sehari – hari. Saat tiba di sana, si Rafiq terkejut sekali mendengar cerita si tetangga penjual belanjaan tersebut. “kemarin pada sore hari sebelum meninggal, kok tumben si Hanimah pergi belanja sendiri padahal hujannya lumayan lebat” cerita si tetangga penjual tersebut. “yang bener buk?” Tanya si Rafiq. “ iya bener lah, pas tak Tanya dia bilang kalo suaminya sedang sibuk bekerja dan di rumah kehabisan stock makanan jadi saya pergi belanja sendiri supaya nanti suami saya bisa makan” jawab si tetangga penjual tadi. Mendengar cerita itu si Rafiq semakin bersedih dan merasa kehilangan. Karena pada saat itu, si Rafiq tidak menghargai perjuangan sang istri, dia hanya memakan makan malam buatan sang istri cuman 3 sendok makan. “Kenapa dia tidak marah sama sekali sih” batin si Rafiq. Dia merasa menyesal sekali tapi dia hanya bisa mendoakannya sekarang.
Suatu hari setelah meninngal sang istri. Si Rafiq membaca buku fiqih karya Sulaiman Arrasyid yang beriskan hadis : C:\Users\Trilogy\Downloads\11800608_1157432924283764_1746151776256788739_n.jpg
Setelah membaca hadits ini dapat membuat si Rafiq dapat berhenti berkabung dan tersenyum kembali, karena dia sang suami sangat mencintai dan merinduya.. hanya dengan berdoa dan berusujudlah yang sekarang bisa kulakukan untukmu.. karena MERINDU YANG PALING TULUS ADALAH MELALUI SUJUD..
          


Comments

Popular posts from this blog

Kematian

Logika Akhir Zaman

Tabir Bukan Penghalang Cinta